Like Us Facebook

Menjaga Api di Ujung Malam: Taksonomi Pendidikan Perspektif Ibnu 'Asyur

 

Fajar itu hadir setiap kali ada seorang guru yang mengajar dengan ketulusan hati, bukan sekadar demi mengejar tuntutan administratif. 


Oleh: Anas Fariq Al-Hakim

Ada sebuah kalimat indah dari komposer Gustav Mahler yang rasanya sangat pas untuk memulai perbincangan ini: "Tradisi bukanlah penyembahan terhadap abu, melainkan penyampaian api." Kalimat ini menyimpan kebenaran sederhana yang sering kali kita lupakan. 


Sejarah manusia seolah menjadi saksi bahwa sebuah peradaban runtuh bukan karena diserang dari luar, melainkan karena api di dalam lenteranya perlahan-lahan padam dari dalam. 


Ketika ulama asal Tunisia, Muhammad al-Tahir Ibnu Asyur, menulis bukunya yang berjudul A-laysa al-Subhu bi-Qarib? (Bukankah Subuh Itu Sudah Dekat?), ia sebenarnya tidak sedang menyusun diktat kurikulum atau panduan teknis mengajar. 


Ia sedang berteriak di tengah kesunyian, mencoba mengguncang pundak umat yang tertidur lelap dalam kenyamanan dogma yang kaku, tepat di saat kolonialisme sedang mencengkeram dunia mereka. 


Buku ini adalah titik berangkat kita untuk merenungkan kembali sesuatu yang lebih besar: bagaimana kita memahami hubungan antara ilmu yang kita pelajari, kekuasaan yang mengatur hidup kita, dan nasib sejarah yang kita jalani.


Jika kita menengok ke belakang, sejarah di belahan bumi mana pun selalu melahirkan sosok-sosok yang berdiri di perbatasan zaman. Mereka adalah orang-orang yang kerap kali kesepian dan disalahpahami. 


Bagi kelompok konservatif yang takut akan perubahan, para pembaharu ini dianggap sebagai pemberontak yang lancang merusak warisan masa lalu. Sementara bagi kelompok modernis yang terlalu silau dengan masa depan, mereka dianggap kuno karena masih setia mendekap sejarah. 


Namun, justru di sanalah letak ketulusan mereka yang bisa kita sebut sebagai "Penjaga Api". Di Timur, kita mengenal Al-Ghazali yang berani mengkritik kemapanan teologi masanya demi menghidupkan kembali ketulusan beragama, atau Syaikhul Islam yang mendobrak kekakuan logika formal demi mengembalikan kemurnian tauhid. 


Ibnu Asyur pun berdiri di garis yang sama ketika mengkritik sistem pendidikan di Universitas Ez-Zitouna. Ia bersuara lantang bukan karena benci, melainkan karena ia terlalu mencintai tradisi itu dan tidak tahan melihat warisan intelektual yang begitu kaya menyusut menjadi sekadar hafalan mati tanpa nyawa.


Gelisah yang sama sebenarnya juga berdenyut dalam nadi filsafat Barat. Friedrich Nietzsche pernah menulis kritik pedas tentang bagaimana sekolah-sekolah modern mengubah manusia menjadi sekadar "kolektor data sejarah" yang pintar mengumpulkan masa lalu tapi kehilangan kemampuan untuk menciptakan masa depan. 


Di era yang lebih dekat dengan kita, para pemikir teori kritis seperti Theodor Adorno meratapi bagaimana akal budi manusia—yang awalnya dipakai untuk membebaskan diri dari takhayul—justru berujung pada penciptaan penjara baru berupa birokrasi dan sistem industri yang dingin dan robotik. 


Para penjaga api dari Timur maupun Barat ini sadar akan satu hal yang sama: menghormati masa lalu tidak pernah berarti menyembah abunya. Menghormati masa lalu berarti merawat apinya agar tetap menyala, memberi kita kehangatan dan cahaya untuk melangkah ke masa depan yang belum kita ketahui.


Sayangnya, api itu sering kali padam karena penyakit yang bernama formalisme. Ini adalah penyakit universal yang bisa menyerang institusi mana saja, mulai dari pesantren kuno hingga universitas modern berteknologi tinggi. Penyakit ini muncul ketika kita mulai menganggap alat sebagai tujuan akhir. 


Di masa-masa akhir kejayaan keilmuan Islam klasik, muncul budaya meringkas buku secara berlebihan. Buku yang awalnya tebal diringkas menjadi teks pendek, lalu diberi penjelasan panjang lebar, diberi catatan pinggir, hingga catatan tambahan untuk catatan pinggir tersebut. 


Awalnya, tradisi ini adalah ruang debat yang sangat hidup dan tajam, mirip dengan sistem penelaahan sejawat dalam jurnal ilmiah modern hari ini. Namun, ketika gairah untuk mencari kebenaran mulai hilang, yang tersisa hanyalah ritual menguasai simbol dan istilah-istilah rumit. 


Murid-murid dipaksa menghafal formula bahasa sebelum akal mereka sempat memahami maknanya. Ilmu tidak lagi mendewasakan cara berpikir, melainkan hanya melahirkan orang-orang yang mahir mengutip tanpa pernah benar-benar mengerti.


Di abad ke-21 ini, penyakit formalisme itu bermutasi menjadi sesuatu yang lebih dingin dan rapi melalui industri pendidikan modern. Apa yang dulu dikritik oleh tokoh pendidikan Paulo Freire sebagai "pendidikan gaya bank"—di mana murid hanya dianggap sebagai celengan kosong yang pasif diisi informasi oleh gurunya—kini menjelma menjadi kultus terhadap lembar ijazah, sertifikat, dan gelar. 


Hari ini, esensi dari kebenaran ilmiah sering kali kalah oleh tuntutan administratif, mulai dari indeks jurnal hingga angka kredit rujukan. Kita sibuk mencetak manusia-manusia yang sangat terampil secara teknis, tetapi kosong secara batin dan asing terhadap makna hidup mereka sendiri. 


Dalam kacamata filsafat Timur, ketimpangan ini mirip dengan hilangnya harmoni antara Yin dan Yang. Ketika struktur luar yang kaku menindas kedalaman batin, manusia perlahan kehilangan kemanusiaannya.


Sebagai penawar untuk kebuntuan ini, Ibnu Asyur menawarkan konsep Maqasid al-Syari'ah bukan sekadar sebagai rumus hukum, melainkan sebagai sebuah cara pandang hidup. Di titik inilah pemikiran Timur dan Barat bertemu dalam dialog yang hangat. Jika filsafat kritis Barat menekankan pembebasan manusia dari struktur sosial yang menindas melalui kekuatan akal mandiri, maka konsep maqasid Ibnu Asyur melangkah lebih jauh. 


Ia memandang akal bukan sebagai alat yang berdiri sendiri dan bebas tanpa arah, melainkan sebagai cahaya anugerah Tuhan yang dinamis—akal yang bebas membaca tanda-tanda zaman tetapi tetap memiliki jangkar pada nilai-nilai kemanusiaan yang abadi. 


Tujuan akhir pendidikan dalam pandangan ini bukan sekadar melahirkan manusia yang pintar dan bebas secara individu, melainkan manusia yang utuh, yang peduli pada keselamatan jiwa, akal, keturunan, dan lingkungan di sekitarnya. Pendidikan harus menjadi proses menyalakan lentera di dalam kepala dan dada manusia, agar mereka bisa berlayar di tengah badai perubahan zaman tanpa kehilangan arah kompas moralnya.


Namun, kenyataan sejarah sering kali berjalan dengan logika kekuasaannya sendiri yang dingin dan kadang brutal. Ide-ide besar sering kali harus mengalah pada keputusan politik jangka pendek. Ibnu Asyur harus melihat impian besarnya tentang reformasi pendidikan dipadamkan oleh kebijakan sekularisasi paksa dari penguasa Tunisia kala itu. 


Universitas Ez-Zitouna diredupkan peranannya, dan sang ulama besar menghabiskan sisa usianya dalam kesunyian, melihat institusi yang ia cintai perlahan-lahan dipinggirkan. Apakah ini berarti pertanyaan "Bukankah subuh itu sudah dekat?" hanyalah sebuah harapan kosong yang naif?


Di sinilah kita menemukan sisi paling menyentuh dari pemikiran beliau. Kalimat tanya tersebut bukanlah sebuah prediksi politik yang penuh perhitungan matematis, melainkan sebuah tindakan iman yang mendalam. Ia adalah sebuah keyakinan bahwa malam—segelap dan sepanjang apa pun ia membentang—pasti akan tunduk pada hukum alam yang niscaya: bahwa fajar akan selalu terbit pada waktunya.


Sikap ini sangat dekat dengan konsep Wu Wei dalam kearifan Taoisme, sebuah seni untuk bertindak tanpa memaksakan kehendak ego pribadi, melainkan mengalir bersama hukum semesta. 


Ibnu Asyur tahu betul bahwa benih pemikiran yang ia tanam mungkin tidak akan sempat ia lihat buahnya. Namun ia tetap menanamnya dengan keyakinan penuh bahwa selama masih ada jiwa yang mencari kebenaran dengan jujur, benih itu tidak akan pernah benar-benar mati dalam tanah.


Subuh peradaban memang tidak pernah datang seperti ledakan cahaya yang tiba-tiba mengubah malam menjadi siang dalam sekejap mata. Subuh selalu datang perlahan-lahan, setitik demi setitik, merayap lembut lewat garis tipis di batas cakrawala. 


Fajar itu hadir setiap kali ada seorang guru yang mengajar dengan ketulusan hati, bukan sekadar demi mengejar tuntutan administratif. Ia hadir setiap kali seorang murid berani mengajukan pertanyaan kritis yang jujur tanpa rasa takut. 


Ia juga hadir dalam ruang dialog yang hangat seperti yang kita lakukan saat ini—di mana naskah-naskah lama dibersihkan dari debunya, diajak berbicara dengan kegelisahan hari ini, dan digunakan untuk merajut harapan kecil bagi masa depan. 


Karena itu, sepekat apa pun malam yang sedang kita lalui, kita tidak perlu lelah mengutuk kegelapan. Kita hanya perlu terus menjaga agar api kecil di tangan kita tetap menyala. Sebab, bukankah Subuh itu memang sudah dekat?

Posting Komentar

0 Komentar