Like Us Facebook

Dua Gerbang Cahaya: Idul Fitri untuk Pulang, Idul Adha untuk Lenyap

 

Idul Fitri mengajarkan kita cara untuk pulang, sementara Idul Adha mendidik kita cara untuk lenyap. 



Oleh: Anas Fariq Al-Hakim

Kita semua sebenarnya adalah musafir yang sedang melangkah di antara dua garis batas sunyi: kepulangan dan pelepasan. Di sela keheningan antara Idul Fitri dan Idul Adha, terbentang jalan setapak para pecinta yang jarang sekali dibicarakan. Jalan ini tidak pernah ditulis di buku-buku teori, namun ia terus berdenyut dalam dada mereka yang memilih untuk terjaga. 


Kedua hari raya ini bukanlah sekadar penanda tanggal merah di kalender atau sekadar siklus ritual tahunan, melainkan dua gerbang kesadaran yang saling menyapa—di mana yang satu membujuk kita untuk membasuh diri, sementara yang lain menuntut kita untuk menyerahkan diri secara utuh.


Idul Fitri sering kali kita rayakan sebagai perayaan riuh setelah sebulan penuh memadamkan dahaga. Namun, jika kita bersedia duduk tenang dalam keheningan, hari raya ini adalah isyarat lembut bahwa diri kita sedang dibasuh dari segala jelaga yang menempel selain Tuhan. Kita belajar menahan diri bukan sekadar dari apa yang masuk ke mulut, melainkan dari ilusi dunia yang bising dan kerap menipu pandangan. 


Maka, ketika fajar hari kemenangan itu terbit, sejatinya bukan kita dengan segala kebanggaan yang kembali pada kesucian asal, melainkan kesucian purba itu sendiri—yang selama ini terpenjara oleh kesibukan kita—yang akhirnya menemukan celah untuk kembali memancar di dalam dada.


Sebab, kesucian adalah cahaya pertama yang ditiupkan-Nya ke dalam ruh kita jauh sebelum kita mengenal ramainya dunia. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, cahaya itu perlahan meredup, tertimbun debu keinginan, ambisi, dan riuhnya ego yang selalu berteriak tentang keakuan. 


Puasa sebulan penuh hadir layaknya angin sunyi yang bertiup perlahan, menyingkap debu-debu halus itu hingga cermin hati kita kembali bening. Selaras dengan itu, mistikus Meister Eckhart pernah berbisik bahwa Tuhan tidak meminta apa-apa dari manusia selain hati yang kosong, sebab jiwa yang telah sunyi dari keterikatan makhluk adalah jiwa yang dipenuhi oleh kehadiran-Nya.


Kearifan ini berkelindan indah dengan ajaran Timur lewat Lao Tzu, yang mengingatkan bahwa kita bisa saja membentuk tanah liat menjadi sebuah bejana, namun kegunaan sejati dari bejana tersebut justru terletak pada ruang kosong di dalamnya. 


Dari sudut pandang ini, puasa Ramadhan adalah seni membuat bejana diri kita menjadi kosong, yang puncaknya mewujud pada Idulfitri ketika ego kita meluruh. Hal ini dipertegas oleh Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam yang bertanya dengan lembut, bagaimana mungkin hati bisa memantulkan cahaya jika bayangan dunia masih pekat mengotori cerminnya? Maka, Idul Fitri adalah senja di mana bayangan semu itu mulai memudar, menyisakan ruang lapang yang siap dialiri cahaya ilahi.


Namun, perjalanan spiritual ini menolak untuk berhenti di sana. Setelah bejana diri kita dibersihkan pada hari Idul Fitri, Idul Adha sudah menanti dengan senyap di ujung jalan. Jika Idul Fitri adalah tentang seni mengosongkan diri, maka Idul Adha adalah tentang keberanian untuk meleburkan diri demi sesuatu yang jauh lebih besar. 


Banyak dari kita mengira Idul Adha hanyalah tentang ritual menyembelih hewan dan membagikan dagingnya, padahal itu adalah simbol dari penyembelihan yang jauh lebih sunyi: menyembelih berhala ego di dalam dada kita sendiri. 


Tuhan tidak sedang menguji Nabi Ibrahim dengan kehilangan fisik anaknya, melainkan dengan cinta—di mana Ismail adalah lambang puncak kepemilikan duniawi yang paling dicintai, yang kemudian harus dikembalikan dengan lapang kepada Pemilik aslinya.


Di sinilah rahasia agung itu tersingkap, bahwa yang diminta sebenarnya bukanlah Ismail, melainkan hatimu sendiri. Bukan fisik sang anak yang dikurbankan, melainkan keterikatan berlebih di dalam dada yang kerap kali diam-diam menduakan Tuhan. 


Mengenai hal ini, Jean-Paul Sartre pernah mengupas betapa berbahayanya konsep "memiliki" bagi jiwa manusia. Sartre berargumen bahwa ketika kita merasa memiliki sesuatu atau seseorang, kita sebenarnya sedang menyerahkan diri untuk diperbudak oleh ketakutan akan kehilangan, hingga kita kehilangan kebebasan sejati. Saat kita dengan jemawa berkata bahwa sesuatu adalah milik kita, saat itu pula kita sedang membangun tembok penjara bagi diri sendiri.


Oleh karena itu, Idul Adha hadir sebagai deklarasi pembebasan dari penjara kepemilikan tersebut. Sebab, apalah arti sebuah pengorbanan jika di ujungnya kita masih menyisakan kebanggaan diri sebagai orang yang berkorban? Dan apalah arti sebuah ketaatan jika di dalamnya masih terselip keinginan rahasia untuk dipuji sesama? 


Imam Al-Ghazali pernah mengisyaratkan bahwa puncak ibadah yang sejati adalah ketika seorang hamba tidak lagi melihat dirinya sebagai pelaku ibadah yang hebat, melainkan hanya sebagai wadah kosong tempat berlalunya kehendak dan ketetapan Allah, hingga di titik itulah keakuan kita runtuh tanpa sisa.


Jika kita merajut kedua gerbang ini, kita akan menemukan sebuah alunan spiritual yang utuh: Idul Fitri mengajarkan kita cara untuk pulang, sementara Idul Adha mendidik kita cara untuk lenyap. 


Dalam bentangan tasawuf, langkah pertama adalah membersihkan wadah diri dari kotoran ego, sedangkan langkah kedua adalah memecahkan wadah itu sendiri agar tidak ada lagi sekat pemisah antara sang hamba dengan Sang Pencipta. 


Setelah mencicipi manisnya pulang ke rumah yang bersih di hari Idul Fitri, kita harus bersiap dengan getirnya melepaskan apa yang paling kita genggam di hari Idul Adha. Kenyataannya, tidak semua orang yang berhasil pulang sanggup bertahan dalam kesunyian, dan tidak semua orang yang mengaku cinta memiliki keberanian untuk kehilangan. 


Di antara dua hari raya ini, terbentang sebuah jalan sunyi—jalan di mana kita tidak lagi sibuk mencari Tuhan di luar sana karena keakuan kita telah habis dikikis, hingga akhirnya kita tersadar bahwa ke-diri-an kita yang palsu telah tiada, dan hanya Dia yang tersisa di dalam dada.

Posting Komentar

0 Komentar