Like Us Facebook

Ulat Bulu pada Kematianku

 

Semuanya kembali senyap. Dunia kembali ke setelan awal saat kusadari satu hal: asap kecil itu masih menyembur dari sumbu yang terbakar di wadah meja samping sofa.



Oleh: Anas Fariq Al-Hakim

Asap putih mekar merawat sunyi, meliuk serupa tarian indah yang ditiup angin semu. Ia merekah, menyelinap di antara celah ventilasi kamar-kamar kecil, seolah-olah sedang merobek selaput ruang dan waktu. Indah yang menyakitkan. 


Alirannya seolah menyimak simfoni syahdu yang tak terdengar telinga fana. Tak lama, pita-pita putih itu melebar, membelai dinding kayu jati yang angkuh dan berkilau. Sebuah duet istimewa antara keabadian kayu dan kefanaan asap. 


Ia merayap turun, mencumbui lantai granit bercorak rupawan yang nampak provokatif dalam diamnya. Putih, abu, dan biru bersetubuh dalam kabut tipis. Dan aku, menjadi penonton tunggal dalam teater keheningan ini. Menikmati setiap detak waktu yang meluruh. Semuanya terasa khidmat, nyaris sakral. 


Di dalam bilik mewah yang kukenal ini, aku mengecap alur waktu yang terasa nikmat tanpa bising jeritan, tanpa jerat dogma manusia yang kerap melilit leher. Hanya satu yang menemani. Oh, bukan satu, melainkan dua raga yang tengah terlelap dalam ritme napas yang berat.


Di ruang ini, aku terasa berbeda. Aku berdiri lebih tinggi dari biasanya, seolah-olah kesadaranku baru saja mekar sepenuhnya. Seperti karakter utama dalam Manga yang di beri kekuatan lebih.  Tatapanku lebih tajam, sanggup menembus tabir yang sebelumnya gaib. Penciumanku pun menajam hingga ke batas yang pedih. 


Cahaya dari timur menerobos lorong-lorong kecil, menambah estetika tragis di dalam sini. Ia berpadu dengan desis minyak goreng dan aroma bawang yang hangus. Anehnya, bau itu menjadi harum yang magis, serupa ramuan mahal yang baru pertama kali menyentuh ujung sarafku.


Kualihkan pandanganku pada tubuh-tubuh itu. Bayangan memutar kembali fragmen masa dengan seorang lelaki yang menarik tangan perempuan masuk ke bilik ini. Mereka bertahta di atas sofa Italia yang kubeli dengan harga yang selangit. Bercengkerama, tertawa, dan menenggak racun kegembiraan bersama. 


Percakapan mereka mengalir, sesekali serius, lalu mencair menjadi gelak tawa yang hampa. Pemandangan itu kemudian luruh menjadi siluet dua tubuh yang hanyut. Terbawa oleh mabuk yang diantarkan cairan dalam gelas-gelas kristal. Baunya menyengat, menusuk hidungku hingga nyeri. 


Keduanya berbaring, melakukan dansa purba yang aneh. Bersua dengan segala sesuatu yang tak lagi bisa kupahami. Suara-suara lirih mulai mengusikku, sebuah tarian ganjil yang kusaksikan dengan mata yang mulai kelabu.


Semuanya kembali senyap. Dunia kembali ke setelan awal saat kusadari satu hal: asap kecil itu masih menyembur dari sumbu yang terbakar di wadah meja samping sofa. Banyak kotoran, sisa-sisa cerutu yang tak lagi bernyawa. "Oh, ini asap tisu yang dilalap bara," gumamku dalam hening. 


Terdengar percikan air dari kamar mandi. Percikan itu berubah menjadi tetesan, lalu aliran yang menderu. Dua raga itu tiba-tiba berada di sana, tertawa dalam gurauan yang remeh. Pikiranku goyah. "Apa ini semua?" tanyaku dalam angan yang terapung. Tubuhku terasa seringan udara, seolah aku baru saja meminum kewarasan yang murni.


Siluet mereka kembali pindah ke atas ranjang. Tema yang sama, suara yang sama. Aku tersesat kebingungan. "Apakah pikiranku yang tengah berkelana? Ataukah sukmaku yang sedang merajut khayalan?" Aku mencoba berteriak, mencoba menggerakkan raga, namun usahaku hampa. Suaraku raib, hanya menyisakan sunyi yang menetap.


Saat kebingungan mencapai puncaknya, sinar timur yang tadi malu-malu kini menerjang jendela, menghantam kaca dengan beringas. Samar, suara klakson mobil menyalak dari kejauhan. "Mereka pulang," pikirku, meski aku tak tahu mereka pulang dari mana. 


Bayangan perempuan itu muncul kembali, imajinasi atau bukan, ia merasuki mataku lagi. Ia tergopoh memakai pakaian yang samar, lalu berucap pelan, "Terima kasih," sebelum akhirnya hilang di balik pintu.


Lelaki itu tertinggal sendiri. Mengusap mata dengan punggung tangan yang basah, lalu jatuh dalam tidur yang sangat lelap, diiringi dengkur yang parau. Aku tak mengerti mengapa nalar ini menyajikan drama ini. Aku mengenali wajah perempuan itu, namun terasa ada memori di dalam memori. 


Tiba-tiba, tubuhku mulai kaku. Napas mulai sesak, dan ingatan yang sebenarnya mulai berdatangan bersama gedoran pintu yang kian keras dari luar. Teriakan memanggil namaku memecah udara. Aku mulai paham. Aku mulai menyusun serpihan nasib ini.


Brak!

Pintu dipaksa menganga. Mereka masuk. Keluargaku yang baru pulang itu. "Indra!!". Sebagian berteriak, sebagian tangisnya pecah, dan ibuku... beliau jatuh pingsan. Mereka semua menutup hidung dengan lengan, melangkah maju dengan ragu menuju onggokan daging yang telah membeku. 


Tubuh itu sudah dikhianati oleh nyawa. Dihinggapi berbagai bau busuk, dikelilingi lalat, dan dirayakan oleh ulat-ulat bulu yang lapar. Tubuh itu membusuk setelah tiga hari terabaikan. Aku sadar sepenuhnya sekarang, itu tubuhku. 


Tubuh yang sudah menjadi perjamuan bagi ulat-ulat kecil. Tubuhku tak lagi milikku, ia telah menjadi panggung bagi pawai putih yang lapar, di mana butir-butir waktu yang menggeliat mulai menyunting sisa-sisa dosa dari kulitku.


Aku ingat malam itu. Saat aku membawa pramuria ke kamar ini. Rangkaian gambar tadi bukanlah imajinasi, melainkan rekaman terakhir dari kehidupan yang sia-sia. Aku ingat saat menyelinap masuk ketika rumah kosong. 


Aku ingat saat menyuap perempuan paruh baya yang biasa memasak di sini agar tutup mulut. "Bibi, jangan cerita siapa-siapa ya." Ia tersenyum, pergi, dan sejak saat itu, aku tak pernah lagi melihat dunia dengan mata yang bernapas.

Posting Komentar

0 Komentar