Hal paling menyakitkan bukanlah kematian, melainkan hidup yang dijalani tanpa kesadaran akan kepulangan.
Oleh: Anas Fariq Al-Hakim
Semburat jingga hadir menggenggam diri, merawat sukma yang bersiap merobek hari. Cahayanya bak sekumpulan rahasia purba tentang tuanya dunia.
Gurat langit itu terukir di atas permukaan air yang memantul, melahirkan pendar warna-warni yang memicu senyum samar di lubuk dada.
Sore itu, seorang pemuda melangkah masuk ke kamar kosnya. Tubuhnya bersih, aromanya wangi, dengan kulit putih yang menyisakan rona kemerahan yang hangat. Ia menyeka sisa air di tubuhnya, air yang entah mengapa membuatnya seolah jauh lebih hidup justru di ambang batas usianya.
Sinar senja yang tak tahu malu itu menyelinap melalui sela-sela pintu dan kisi-kisi ventilasi, lalu menerpa tubuh gagahnya. Ia begitu khusyuk. Sesekali kepalanya mendongak, menyodorkan wajah ke arah datangnya cahaya demi mencecap kehangatan terakhir dunia. Sebuah senyum tersungging, tipis, namun terasa teramat manis.
Tak lama, pemuda itu mengambil sehelai pakaian terbaik yang ia miliki. Sebuah batik lusuh, yang konon merupakan pemberian nenek tercinta. Kain yang bagi mata manusia modern mungkin tak memiliki daya pikat dan kehilangan harga.
Namun ia tak gentar. Sejak hari pertama, ia selalu melabelinya sebagai sandangan terbaik. Celana cokelat dan ikat pinggang tua melengkapi penampilannya sore itu. Sebuah perpaduan ganjil yang tak akan pernah terlintas dalam nalar estetika manusia hari ini.
Tak lupa, disemprotkannya sedikit minyak wangi ke pergelangan tangan, lalu diusapkannya ke seluruh tubuh. Ia menggenapi wasiat sang nenek 'jangan mengumbar aroma yang berlebih dan menyengat'.
Jemarinya kemudian meraih pisau cukur. Gerakannya pelan namun berirama, memangkas tipis kumis dan jenggot yang mulai liar. Ia ingin berada dalam kondisi paling khidmat sore ini. Usai menatap cermin dengan binar kedamaian, ia mengenakan sepatu pantofel hitamnya, lalu merebahkan diri di atas kasur tipis kamar kos itu.
Di balik beningnya kaca jendela, sepasang mata mengawasi setiap gerak-gerik itu dengan takjub sekaligus sangsi. Pemilik mata itu, si bapak kos, seketika teringat peristiwa sebulan lalu ketika pemuda ini memohon izin untuk menyewa kamar.
Hanya ada satu alasan ganjil yang sulit ia cerna kala itu. Pemuda itu berkata bahwa ia datang untuk menjemput ajal di kamar ini. "Anak ingusan yang sedang patah hati, ya?" cemooh si bapak kos waktu itu.
Namun, pemuda gagah itu menggeleng pelan. Ia meyakinkan bahwa ini tak ada hubungannya dengan manusia lain atau asmara yang karam. Jauh-jauh hari, sebuah makrifat telah mengetuk batinnya bahwa ia akan tiada di tempat ini, tepat pada pelukan jam ini.
Setelah puluhan kali alasan yang sama diucapkan dengan keteguhan yang tak goyah, bapak kos akhirnya luluh, meski dadanya terus digayuti rasa mengganjal yang pekat.
Kini, saat tubuh gagah itu terbaring, secuil senyum yang tadinya menghias bibir si pemuda perlahan memudar. Semakin pudar, hingga hanya menyisakan guratan-guratan halus keikhlasan di pipinya. Ia telah tiada, batin pria paruh baya di luar jendela.
Pintu berderit lirih saat ia melangkah masuk, meninggalkan bunyi serupa tangis—sebuah ratapan karena jiwa yang menghuninya kini telah berpindah ruang eksistensi.
Bapak kos terbelalak. Rasa kagum dan haru membuncah seketika, memaksa air mata hangat luruh membasahi pipinya yang menua.
"Kematian seindah ini... adalah impian orang tua sepertiku," gumamnya terisak.
* * *
Pikiran pria tua itu melayang pada malam-malam ketika pemuda berusia 28 tahun itu bercerita panjang lebar. Pemuda yang sejak masa remajanya sudah karib dengan sunyinya kematian, meneruskan pengabdian mendiang ayahnya sebagai penjaga kamar mayat.
Ia tak mengenyam bangku sekolah formal, namun tutur katanya terlampau padat dalam mengemas hakikat hidup. Pemuda itu pernah bercerita tentang malam paling khidmat dalam hidupnya; malam di mana ia menjaga ruangan yang biasanya dijaga sang ayah, namun kali ini, jasad sang ayahlah yang terbujur kaku di atas dipan besi.
Anehnya, ia tak menangis sesenggukan. Ada air yang jatuh memang, tapi tak sampai membanjiri pipi.
* * *
Sepanjang malam yang hening itu, ia menatap tubuh ayahnya, membaca guratan-guratan takdir yang telah usai dilalui. Di dalam kesunyian, batinnya mendesis kala sebuah tabir rahasia tersingkap.
Ia paham, bahwa semua manusia akan mengalami kematian yang sebenarnya hanya berlangsung sebentar, untuk kemudian hidup kembali dalam ruang maha luas yang tak akan pernah bisa didefinisikan oleh rumus matematika mana pun.
Ia paham bahwa manusia tidak hidup satu kali. Manusia hanya mati satu kali. Malam pertama itu menjadi gerbang di mana ia merelakan jalan hidup yang telah digariskan untuknya.
Bukan ia yang memilih takdir, melainkan ia yang menyerahkan diri pada apa yang telah dipilihkan. Ia tahu betul variabel mana yang menjadi haknya, serta siapa dan apa saja yang akan ia temui di ujung jalan.
Malam itu, sebuah pengetahuan spiritual batiniah meresap ke dalam kepalanya. Laduni, begitu orang-orang saleh sering menyebut pengetahuan yang jatuh langsung dari langit.
Pria paruh baya itu menangis semakin deras. Ia mengingat betul setiap jengkal cerita si pemuda. Ia tak sepenuhnya paham secara logika, namun seluruh kisah itu menghujam langsung ke lubuk kalbunya, kalbu seorang bapak kos yang biasanya hanya menghabiskan hari dengan bersandar, membaca koran, dan bersendawa.
Kali ini, seluruh dunianya terguncang hebat. Sebuah badai batin merontokkan segala keangkuhan yang selama ini ia pelihara sebagai manusia yang merasa hidup lebih lama. Ia tersungkur, memeluk sejenak tubuh kaku pemuda itu.
Aroma wangi yang menguar dari pakaian lusuh si pemuda justru menambah deras air matanya. Ia tak tahu apakah ini nestapa ataukah sebuah anugerah. Yang ia tahu, di hadapannya terbaring tubuh menawan seorang pemuda yang berhasil menjemput kematiannya sendiri—atau mungkin, kematianlah yang bertamu tepat saat ia telah siap. Pria tua itu tak lagi peduli mana yang benar.
Di sudut perempatan jalan tak jauh dari indekos, sebuah kerumunan kecil tampak di warung angkringan. Saat malam mulai menampakkan pekatnya, senda gurau mereka mendadak surut ketika seorang tukang kebun datang membawa kabar dengan suara bergetar.
"Iya, benar. Hardi meninggal tadi sore. Hebatnya, dia pergi persis seperti apa yang pernah dia ucapkan dulu. Memakai batik itu, tubuhnya wangi, dan pada jam yang sama persis dengan yang pernah dia ceritakan di sini."
Mengetahui hari kepulangan bukanlah perkara mudah. Sejak tabir itu disingkapkan di hadapannya, dia harus memikul sunyi yang tak terbagi. Sementara manusia lain sibuk menimbun demi masa depan yang kelabu, ia justru menghitung mundur setiap helaan napas, merapikan urusan dunia dan tahu fajar di pagi hari tak akan pernah ia temui lagi.
Baginya, itu semua adalah karib yang setia sekaligus lonceng yang terus berdentang lirih di balik batok kepalanya.
Orang-orang di angkringan itu mengangguk pelan, seolah baru saja menyadari kehadiran sesosok martir yang luhur di tengah mereka. Mereka teringat padaku, pemuda yang dulu sering bercerita panjang lebar di sela denting gelas kopi.
Dahulu, banyak yang menganggap ucapanku tak lebih dari sekadar bualan pencari perhatian atau igauan orang gila. Namun sore ini mereka sadar, bahwa aku jujur. Bahkan untuk sesuatu yang terkesan menyakitiku.
Mati memang menyimpan perihnya sendiri. Namun dari balik ruang tak berdimensi ini, aku kembali berujar pada dunia yang fana, bahwa yang paling menyakitkan bukanlah kematian, melainkan hidup yang dijalani tanpa kesadaran akan kepulangan, bertualang dalam kesia-siaan tanpa pernah tahu kapan kaki mereka harus berhenti berjalan.

0 Komentar